Jangan pernah menyesalinya 

Jangan pernah menyesalinya

Belajar dari kehidupanku yang terdahulu. aku selalu ingin mengatakan dan menegaskannya dalam hati bahwa aku tidak akan menyesalinya.
Kisah suram dan lembar hitam bercampur tinta putih yang tertorehkan adalah bagian dari masa laluku. Aku tidak terlalu ingat. karena sudah sangat lama kisah hidupku ini. Saat aku masih SD, orang tuaku adalah seorang wiraswastawan. membuka usaha yang cukup mapan di bidan konstruksi besi dan perbengkelan. aku tahu. dan aku tidak pernah mensyukurinya. mungkin karena usiaku yang masih kecil. Selalu mendapatkan keinginanku terpenuhi. bukan berarti aku anak yang manja. bukan berarti pula aku anak yang merasa kaya dan berkuasa. tidak. aku adalah orang yang rendah diri dan bukan rendah hati. aku tahu bahwa aku meletakkan hatiku di puncak sebuah gunung yang tinggi, dan semua orang akan menganggap ku sebagai orang yang sempurna. Bodohnya. Tinggal dengan beberapa sepupu, hidupku memang sedikit berbeda. mudah dibohongi dan dipengaruhi. ketika aku termakan emosi, seringkali aku menyakiti seorang anak yang usianya lebih kecil dariku, dan dia adalah anak dari orang yang sehari-hari bekerja di tempat orang tuaku. entah mengapa tanpa perasaan bersalah. kadang kupukul, kucubit hingga merah, meski tidak menangis aku tahu bahwa dia kesakitan, namun sayang orang tuakupun tidak menegurku. kenapa. Hidup ini penuh drama. Orantuaku menyekolahkanku di sekolah yang boleh dibilang sekolah untuk kalangan menengah ke atas. aku menyadari bahwa aku bukanlah bagian dari yang atas. mungkin hanya menengah. usaha orang tuaku biasa-biasa saja meski kami memiliki mobil, motor, rumah, dan perabotan lengkap, serta santapan dari restoran fast food setiap minggu itu adalah hal yang biasa. Aku sering melihat teman-teman di sekolah ku yang memiliki kehidupan yang jauh lebih baik. Mercedez, kolam renang, jalan-jalan ke Bali, ke Australia dan sebagainya. kalangan borju. seringkali aku melihat ke atas. bahkan tak pernah melihat kebawah. aku selalu merasa rendah. menyedihkan, sebuah pola pikir kehidupan dan kecerdasan sosial yang rendah. Mendengar celetukku bahwa aku pernah tinggal di hotel bintang 3 di Tegal yang menurutku sangat mewah, teman-teman hanya tertawa, mengingat bahwa hotel di Bali jauh lebih indah. Kacau, merendahkan diriku, menjatuhkan diriku dalam sudut gelapku sendiri. teman.
Bicara soal teman, aku memilikinya, setidaknya aku menganggapnya begitu. Teman sepermainan. dekat dengan rumah, dan satu sekolah tentunya. seringkali bermain dengan khayalan seperti anak kecil kebanyakan. mengubur sebuah manik-manik keemasan di kebun belakang sekolah dan menganggapnya sebagai harta karun kita bersama, dan suatu saat akan kita gali. yah, hal kecil yang menyenangkan bila harus mengingatnya. Banyak hal lain yang kami lakukan bersama. bermain game, mengerjakan PR dan banyak lagi. Namun tak jarang aku mengecewakannya. aku lebih memilih meletakkan ego daripada meletakkan kebahagiaannya. memilih untuk menonton film kesayanganku dari pada membiarkannya bermain video game dirumahku, dia pun pergi bermain sendirian dihalaman rumah. dan aku tetap asyik sendiri. menyedihkannya aku. Namun itu semua adalah seperseribu daripada kekecewaan dan penyesalanku mengenai dirinya. adalah saat dia kehilangan Ibu nya yang sejak lama mengidap kanker. Saat itu memang aku dan sekolah sedang mengadakan acara perpisahan yang diadakan di Horison. kami bersenang-senang disini. sementara aku tidak tahu bahwa kawan ku saat itu kehilangan orang paling berharga dalam hidupnya. dan bahkan setelah aku mengetahuinya AKU TETAP TIDAK MENJENGUKNYA. atau hanya sekedar memberikan support moral, aku tidak tahu dengan teman-teman sekolah yang lain. Yang kutahu saat perpisahan kedua yang diadakan di Lembah hijau, dia ada. dalam duka tentunya, namun aku sepertinya TERLALU MENIKMATI perpisahan tersebut, dan tidak memikirkan perasaan temanku yang sedang berduka saat itu. dan itu adalah saat terakhir aku bertemu dengannya. aku tidak mengetahui kabarnya lagi. yang kutahu bahwa dia sekolah di SMP yang dekat dengan tempat tinggalnya. namun kenapa aku tidak pernah mengunjunginya walau hanya sebentar. bahkan sampai sekarang. apakah dia akan lupa. entahlah. yang jelas penyesalan saat itu selalu ada saat ini.
Seperti melupakan sesuatu yang penting, aku menjalani hidupku dalam keadaan yang lebih sulit, tapi kenapa aku selalu menganggap diriku hebat, kaya, dan sempurna. perusahaan orang tuaku gulung tikar tepat setahun sebelum krisi moneter terjadi. saat itu aku selalu menyalah kan bapak yang ku anggap tidak becus. aku tahu terkadang bapak sangat sensitif dan mudah emosi. aku saat itu selalu melawannya, menyalahkannya atas semua kegagalan dan penderitaan yang harus dirasakan seluruh keluargaku. Bodohnya. Aku tidak akan pernah dewasa. Aku tahu dan menyadarinya, bahwa terkadang aku melihat bapak bekerja tidak lebih keras daripada ibu. bapak adalah orang yang mudah dibujuk oleh orang lain, mudah ditipu, dan lain sebagainya. ibuku bekerja membangun perusahaan bersama bapak, namun pada ahirnya harus berahir karena kesalahan, sekarang aku tidak ingin siapa yang salah. tetapi dulu aku selalu menyalahkan bapak yang terlalu bodoh untuk kredit barang, meminjamkan hutang, bahkan tertipu oleh orang-orang yang memang biadap bermaksud menipu. blaming all the fail to him. Aku tahu, ini adalah penyesalanku, aku tidak bisa berbuat apa-apa saat itu, bapak terlalu keras kepala, ibu juga bukan berarti tidak salah, terkadang ibu berkata terlalu keras sehingga justru membuat emosi bukan meredamnya. Menyedihkan. namun semua itu telah terjadi. kami telah terpuruk sekarang.

Return to Main Page

Comments

Add Comment




On This Site

  • About this site
  • Main Page
  • Most Recent Comments
  • Complete Article List
  • Sponsors

Search This Site


Syndicate this blog site

Powered by BlogEasy


Free Blog Hosting